Saya adalah pendukung Kesebelasan Portugal sejak dua puluh terakhir. Semua yang “berbau” Portugal pasti saya dukung. Itu mungkin karena saya terpapar dengan kebudayaan Portugis selama tinggal di Timor Lester (1989-1991; 1994-1996). Sementara kesebelasan tentang kesebelasan Belgia, saya bukan pendukung fanatik. Saya baru mulai suka ketika Piala Eropa 2016 dan Piala Dunia 2018. Saya kira karena para pemainnya yang memang bagus, sedang naik daun, prestasinya sedang bagus-bagusnya di berbagai klub besar di Eropa. Saya memang pernah belajar di Belgia dan menikmati kenyamanan tinggal di negeri super kecil itu, tetapi itu bukan faktor utama.
Maka, ketika Portugal harus bentrok melawan Belgia di delapan besar, saya sedikit dilematis untuk menentukan pilihan. Tapi kali ini saya mencoba mempertimbangkannya secara cukup rasional – juga berdasarkan beberapa ulasan pengamat dan bacaan saya. Inilah alasannya mengapa kemudian saya menjagokan Belgia, sebuah pilihan yang tentu berseberangan dengan banyak saudara saya di Timor Lester dan di Flores sana. Apa yang melandasi pilihan saya?
Faktor Ronaldo
Dari sisi Tim Portugal, saya melihat titik kelemahan justru ada pada Cristiano Ronaldo alias CR7. Menurut Jose Mourinho dalam obrolan dan analisis dengan TalkSport, CR7 memiliki kinerja yang masih dan selalu bagus karena dia selalu didorong untuk memecahkan suatu rekor. “Dia memotivasi diri untuk memecahkan suatu rekor baru,” demikian kata Mou.
Nah, justru di situ masalahnya. Anda masih ingat ketika bentrok melawan Hungaria dan CR7 berada pada posisi yang lebih bebas di depan gawang dan Diogo Jota tidak mengover bola kepadanya? Diogo Jota malah memilih menembak sendiri ke gawang dan tidak membuahkan gol? Atau, gerak tubuh Bruno Fernandes – dan mungkin pemain-pemain lain – yang tidak terlalu antusias ketika CR7 membuat gol? (bandingkan dengan antusiasme pemain-pemain Juve atau Real Madrid ketika mendampingi CR7 merayakan gol ke gawang lawan).
Bagi saya, ini adalah ekspresi dari ketidaksenangan para pemain Portugal. Saya yakin di dalam hati mereka berkata, “Kita ini main untuk kejayaan Portugal atau untuk merealisasikan rekor baru CR7?” Sementara setiap pemain Portugal yang rata-rata masih sangat muda itu memiliki ambisi sendiri-sendiri juga untuk mencatatkan rekor, meningkatkan harga jual mereka, dan yang terpenting juga adalah mendapatkan porsi pemberitaan.
Bisa jadi berada di grup neraka selama enam belas besar, harus puas di posisi ketiga dan masuk ke delapan besar hanya sebagai urutan tiga terbaik ikut berpengaruh pada kinerja tim ketika bentrok melawan Belgia. Tetapi bagi saya, ini bukanlah faktor utama.
Jika saya pelatih kesebelasan Portugal atau asisten pelatih, CR7 tidak saya turunkan dalam laga melawan Belgia itu. Saya baru akan menurunkan dia mungkin tiga puluh atau dua puluh menit terakhir. Ini untuk memberi kesempatan kepada Bernardo Silva, Bruno Fernandez, Diogo Jota dan anak-anak muda lainnya unjuk gigi. Santos terlalu lembek pada CR7.
Julukan bagi kesebelasan Portugal adalah “A Seleção (baca a selesao alias “pilihan” (The Selection). Tetapi mereka juga dijuluki Os Navegadores (baca: us nawegadores) alias “penentu”, “kiblat”, “penanda” (The Navigators). Sebelum menjuarai Euro 2016, mungkin orang melihat mereka sebelah mata. Tetapi selepas menjadi juara, semua mata seakan tertuju ke negeri molek di Semenanjung Iberia itu. “Adalah sesuatu yang besar muncul dari Portugal selain kemiskinannya” terjawab melalui prestasi Euro 2016 itu. Tetapi apakah mereka adalah “pilihan”? Mungkin ya jika tanpa CR7.
Kehebatan Martinez
Bahwa anak-anak muda yang tergabung dalam kesebelasan Belgia adalah orang-orang hebat, saya rasa tidak perlu diragukan. Mereka bermain di liga-liga utama di daratan Eropa. Mereka juga disebut generasi emas, setidaknya sampai Euro 2020 ini berakhir. Jadi, secara kualitas tim, menurut saya, tidak perlu diragukan (bandingkan keyakinan ini dengan keraguan pada pemilihan pemain nasional Inggris atau Spanyol di Euro 2020 ini).
Tetapi kita juga tahu dengan baik, bahwa kehebatan pemain hanyalah satu faktor. Faktor lainnya yang teramat penting adalah pelatih. Untuk kesebelasan nasional Belgia, pilihan pada Roberto Martinez adalah tepat. Lebih tepat lagi ketika strategi yang diterapkan dalam Euro 2020 kali ini juga tepat dan cocok dengan karakteristik beberapa pemain kunci.
Merujuk ke analisis Jose Mourinho dan beberapa analis luar negeri lainnya, saya menilai kehebatan Martinez terutama dalam menerapkan strategi permainan karena … alasan utama. Pertama, Martinez sebenarnya melanjutkan apa yang telah dilakukan Antonio Conte ketika melatih Inter dan Romero Lukaku menjadi salah satu andalannya. Martinez – sama seperti yang dilakukan Conte – memberi titik tumpu penyelesaian bola di depan gawang pada Lukaku, tetapi dalam kerja sama yang apik dengan Lautaro Martinez (di Inter) dan dengan Eden Hazard (di timnas Belgia). Bola dibiarkan mengalir dari belakang ke Lukaku. Seperti yang dikatakan Jose Mourinho, Lukaku sangat kuat secara fisik. Kedua kakinya sangat perkasa, sehingga jika tidak ada kesempatan menendang bola ke gawang lawan, dia bisa menciptakan ruang bagi bergeraknya bola dan kemudian menggelindingkannya ke pemain lainnya untuk kemudian dilesakkan ke gawang lawan.
Kedua, persahabatan dan ikatan emosi. Jose Mourinho menilai perpindahan Lukaku ke Inter adalah pilihan yang tepat dan bagus buat Lukaku. Di Manchester United, Lukako tidak hanya tidak berkembang, tetapi juga “dihina”. Lukaku sedang terluka dan luka itu sembuh di Inter, di tangan dingin Conte. Itu juga karena persahabatan yang sangat intim antara Lukaku dan Lautaro Martines, tidak hanya di lapangan, tetapi juga di luar lapangan. Hal yang sama juga terjadi di timnas Belgia. Lukaku membangun persahabatan dan persaudaraan yang sangat intim di dalam dan di luar lapangan, tidak hanya dengan Hazard bersaudara tetapi juga dengan pemain-pemain lainnya.
Ketiga, persahabatan menjadi faktor penting bagi keberhasilan timnas Belgia. Ini karena kepentingan diri individu pemain (egoisme) dan identifikasi mereka pada komunitas kultural jauh lebih erat dibanding identitas nasionalis mereka. Eden Hazard bersaudara berasal dari La Louviere dan termasuk dalam Komunitas Wallonia berbahasa Prancis sementara lahir di Provinsi Antwerp di daerah Flemish yang berbahasa Flemish (Belanda). Sementara itu, Kevin De Bruyne adalah anak muda yang lahir di tanah Ghent di wilayah Flemish atau Flanders yang juga berbahasa Flemish (Belanda) tetapi yang sejak awal ingin keluar dari Belgia dan tinggal di kota lain hanya demi karier dan gaji yang tinggi di sepak bola. Persahabatan para pemain baik di dalam maupun di luar lapangan akan menciptakan kemistri dan semangat nasionalisme di antara mereka. Dalam konteks ini, saya mengerti mengapa Roberto Martinez tidak mengikutkan “Si Bengal” Nainggolan dalam Timnas Belgia karena kelakuannya dapat menjadi pemecah-belah tim.
Pembinaan pemain muda bisa menjadi faktor pembanding, tetapi itu harus dianalisis dalam perbandingannya dengan pembinaan pemain muda di Portugal. Karena itu, saya tidak mengangkat ini sebagai salah satu penyebab kekalahan Portugal.
Saya sendiri menaruh harapan besar pada Belgia. Saya memang menjagokan Belgia di final dan menginginkan mereka mengangkat trofi di final nanti, entah melawan Inggris entah Jerman atau negara-negara lainnya. Kemenangan mereka akan menjadi catatan prestasi penting, tidak hanya bagi keberhasilan pembinaan generasi muda – prek pembinaan generasi muda Belgia tahun 2000 – tetapi juga hiburan bagi 11 juta penduduknya yang sedang menghadapi masalah bagaimana mengintegrasikan imigran ke dalam budaya dan tata nilai ke-Belgia-an.[]



